November 4, 2018

Pagi ini telah keluar dari mulut seseorang yg pernah saya panggil mama kata-kata yang tidak akan pernah bisa saya lupa. Dia mengatakan, "seandainya tidak berdosa itu sudah saya bunuh mko, mati mko saja sekalian tidak ada ji guna-gunamu hidup. Mati mko saja. Mati mko."

Bukan kali pertama saya mengalami ini, hanya saja setelah saya bertanya kenapa dia tidak bunuh saja saya sekalian, dia bilang bahwa dia tidak mau masuk penjara.

Entah apa yang membuat saya tetap kuat tidak mengambil pisau sesegera mungkin dan bunuh diri di depannya. Mungkin perasaan takut, atau mungkin karena saya tahu bahwa tertusuk pisau itu sakit. 

Bertahun-tahun yang lalu saya juga pernah hampir bunuh diri, tapi di irisan pertama pisau itu di lengan saya, rasanya sangat sakit. 
Sudah beberapa kali saya ingin sekali mati saja, karena toh dia memang ingin lebih baik saya mati. Tapi otak saya masih bekerja dengan baik, perasaan takut atau apa entahlah. 

Pagi ini dimulai dengan dia menggedor kamar, memukul saya pakai sapu, menendang. Di kamar saya ada gunting, ku tanya kenapa tidak sekalian pakai gunting biar saya mati, dia hanya kembali memukul saya pakai sapu. Saya tanya dia kurang puas apalagi? Dia bilang saya adalah anak tidak berguna, tidak bisa membantunya di rumah, tidak ada satupun hal berguna dari saya tinggal di rumahnya. Dia bilang pergi saja dari rumahnya, tidak ada gunanya saya tinggal disana.

Saya adalah anak yang gagal di mata dia.
Dia capek membesarkan saya, saya malah menjadi anak yang tidak berguna

Ketika keluar dari mulutnya bahwa saya betul-betul lebih baik mati saja, saat itu juga sudah tidak lagi alasan saya tinggal.
Saat itu juga saya memutuskan, saya adalah anak yang telah mati untuk dia.
Toh dari dulu juga sepertinya begitu, hanya saja mungkin karena pemikiran akan malu atau apa kalau anaknya mati makanya dia tidak membunuh saya dari dulu. Jadi saya yang mengambil keputusan untuknya. 
Saat saya mengatakan kenapa tidak ambil pisau sekalian  dan bunuh saya, saya betul-betul sudah berharap dia akan mengambil pisau dan membunuh saya.

Saya sudah tdk bisa menangis pagi tadi. 
Iya, saya anak yang tidak tahu berterima kasih kepada dia. Saya adalah anak pembangkang yang selalu membalas perkataan kasarnya kepada saya. 
Maka mungkin dengan menganggap saya anak yang sudah mati untuk dia, adalah cara saya berterima kasih, dia tidak perlu lagi memikirkan anak yang tidak berguna dalam hidupnya ini.

Saya adalah anak yang durhaka. Saya tahu dan sangat sadar itu. Tapi setidaknya saya tidak perlu lagi menambah dosa dengan berhadapan dengannya. 
Saya adalah anak yang sudah mati untuk dia. 

February 22, 2018

Makassar yang basah

Akhir-akhir ini Makassar basah di malam hari.
Siang hari sangat terik, lalu petang mulai mendung, dan ketika tiba malam, hujan turun.
Tidak kira-kira, harus memakai mantel hujan jika kamu tak ingin basah, harus menyalakan wiper mobil jika tak ingin pandanganmu terganggu tetes hujan.
Banyak juga yang terpaksa berteduh dipinggiran jalan, dibawah atap bangunan atau dibawah jembatan penyebrangan. Mereka lupa membawa mantel hujan, atau mungkin sengaja tak bawa, mengira sudah tak mungkin turun hujan, karena siang terlalu terik untuk meramalkan akan hujan ketika malam.

Disaat seperti ini, sangat pas mendambakan secangkir cappucino panas.
Atau sepiring nasi goreng ditambah telur mata sapi setengah matang. Lapar.

Disaat seperti ini, biasanya tiba-tiba ingin mengobrol panjang dengan seseorang. Saling bercerita tentang hari kamis yang panjang, mengutuk karena tiba-tiba turun hujan, dan berbagi sepiring pisang goreng yang masih panas.

Sayangnya hanya ada setumpuk kertas laporan saat ini. Minta diselesaikan sebelum pukul sepuluh malam. Dan secangkir kopi hitam yang telah dingin dan tersisa sedikit hampir habis.
Tidak ada sepiring nasi goreng, atau pun seseorang teman bercerita panjang.
Tapi hujan masih deras. Belum ada tanda akan segera reda. Mungkin malam ini akan sangat panjang. Tak apa. Aku suka Makassar yang basah.

Disuatu sudut kota makassar.

R

February 13, 2018

Surat panjang dan Postingan terakhir tentangmu

Di tengah meeting panjang di hari senin ini, entah kenapa saya tiba-tiba membuka blog ini yang sudah lama tidak ada postingan baru di dalamnya dan membaca postingan-postingan lama saya.

Di tengah membaca postingan-postingan saya, kemudian saya menyadari bahwa kebanyakan postingan terakhir saya bercerita tentang seseorang. Seseorang yang namanya sudah lama tidak muncul di inbox messengers saya. Seseorang yang pernah menjadi pusat dari hari-hari saya. Seseorang yang sebentar lagi akan memiliki kehidupan baru.

Lalu saya tersadar kalau cerita(?) saya tentangnya kebanyakan berisi tentang rasa sakit hati (sepertinya rasa sakit lebih mudah membuat saya untuk menulis).
Jadi, kenapa tidak sekalian saja, ini menjadi postingan terakhir saya tentangnya?

Ini adalah surat yang saya tulis di awal tahun lalu, yang saya tujukan untuknya. Awalnya saya bermaksud untuk mengirimkan langsung surat ini (sudah saya tulis rapi di buku catatan saya) entah lewat kantor pos (yes, post office do still exist, despite maybe people don't really use it to sent a letter thou)
Atau menitipkannya di seseorang, atau memberikan langsung kepadanya jika tidak sengaja bertemu (walau itu hal yang sangat tidak mungkin)
Tapi saya berfikir lagi, rasanya tidak mungkin saya memberikan surat ini kepadanya.
Entah apa yang saya harapkan dengan menulis nya disini.

Saya tidak berharap dia akan membaca surat ini. Hanya saja, saya berharap dengan menulisnya disini, perasaan saya bisa sedikit lega. Bahwa mungkin saya bisa lebih tenang, jika ada orang lain yang mengetahui tentang isi surat ini. Entah.

Makassar, 9 Januari 2018

Untuk, Tuan Malaikat

Selamat akhirnya kamu menikah dengan dia (setidaknya sebelum surat ini menjadi sangat panjang, biarkan saya mengucapkan selamat terlebih dahulu)

Ketika melihat dan membaca postinganmu bulan desember lalu, bahwa akhirnya kamu bertunangan dengan dia, saya cuma bisa terdiam dan mencoba menerima kenyataan tersebut. Saya mencoba bersikap tidak apa-apa, bahwa berita tersebut tidak berpengaruh terhadap saya. Namun pada kenyataannya hatiku terluka berdarah-darah.
Ternyata kedatanganmu di awal bulan desember itu, bukan semata-mata karena kerjaanmu disini, tapi untuk hal yang lebih penting dari itu.

Ketika saya membaca pesanmu yang berisi, ayo bertemu, tahukah kamu bahwa saya sangat menantikannya? Sayangnya pekerjaan saya tidak bisa saya tinggalkan, dan saya tidak sempat menemanimu siang itu.
Ketika saya berharap kita tetap bisa bertemu, tapi ternyata kamupun sudah sangat sibuk, yang tidak saya ketahui bahwa ternyata kamu sedang mempersiapkan acara lamaranmu.

Ketika minggu pagi kamu menyempatkan diri datang ke rumahku, walaupun dengan alasan kepentingan orang lain, saya bahagia. Setidaknya bisa bertemu lagi denganmu setelah sekian lama. Dan kembali berharap setidaknya sebelum kamu kembali ke tempat kerjamu, kita bisa bertemu dan mengobrol seperti dulu, tapi ternyata...

Di hari ketika saya mengetahui bahwa kamu telah melamar dia, saya menangis. Menangis sejadi-jadinya sampai mataku bengkak, dan orang kantor bertanya ada apa? Tentu saja saya tidak bisa menjawab bahwa orang yang saya sayang telah melamar pacarnya bukan?

Iya. Sayang. Kamu percaya?
Saya masih punya perasaan itu kepadamu, yang dengan sekuat tenaga saya tekan agar tak muncul kepermukaan, agar saya tidak terluka kerena perasaan itu. Agar kita bisa kembali hanya sekedar teman, bukan dua orang yang pernah saling menyimpan perasaan namun keadaan tidak memungkinkan.

Tahukah kamu bagaimana beratnya bersikap biasa-biasa saja di depanmu setelah semua yang sudah kita lalui? Saya sangat ingin kamu tahu bahwa perasaanku kepadamu belum berubah, bahwa masih ada kata sayang, bahwa saya hanya marah kepadamu. Tapi egoku tidak mengijinkannya. Saya berfikir, memangnya apa yang akan berubah jika kamu mengetahuinya? Kamu tidak akan pernah memilihku. Dia. Pilihan utamamu. Saya. Hanya sekedar pemeran pengganti.

Dengan harapan, bahwa ada kemungkinan sangat kecil, kamu bersamaku pada akhirnya, bahwa mungkin dia akan muak denganmu dan membuangmu, lalu kamu akan pergi ke arahku, atau bahwa mungkin akhirnya kamu sadar, kamu lebih membutuhkan perempuan sepertiku, daripada perempuan seperti dia, saya selalu menyebut namamu dalam tiap sujud terakhirku. Tapi tentu saja, setiap doa tidak mungkin bisa dikabulkan. Kita, tidak berjodoh. Saya mencoba menerima kenyataan itu.

Saya sempat berdoa, semoga kamu tidak jadi menikah dengannya, doa yang buruk, saya tahu. Itu karena saya marah. Sangat marah, entah kepadamu atau kepada Tuhan, atau kepada diriku sendiri, saya sampai berdoa hal-hal yang buruk. Maafkan saya. (tapi tenang saja, Tuhan sangat jarang mengabulkan doaku)

Namun setelah sehari semalam saya menangisimu, akhirnya saya mencoba menerima kenyataan bahwa kamu dan dia tidak bisa dipisahkan. Bahwa kamu memilih dia.

Saya mencoba mengikhlaskanmu, walaupun itu rasanya adalah hal yang terberat yang saya lakukan seumur hidupku. Saya memberikanmu ucapan selamat, walaupun saya akui tidak sepenuhnya tulus, tapi saya berdoa untuk kebahagiaanmu.

Saya benar-benar berharap kamu akan bahagia, hanya itu yang bisa saya harapkan sekarang.

Ketika kamu memberi tahuku tanggal pernikahanmu, saya langsung memutuskan untuk tidak datang (yang kamu tebak bahwa saya pasti sibuk)
Setangah hatiku masih sedikit sakit, dan saya benar-benar tidak tahu harus memasang wajah seperti apa ketika berhadapan denganmu dan dia di pelaminanmu nanti. Bagaimana kalau tiba-tiba saya menangis di pestamu? Itu pasti akan jadi bahan pembicaraan semua orang yang mengenalmu dan mengenalku dan mengetahui cerita kita. Jadi lebih baik jika saya tidak datang, dan mendoakanmu dari tempat yang jauh.

Semoga kamu bahagia.
Dan semoga ketika kita bertemu nanti, saya bisa tersenyum ikhlas dan kembali mendoakan kebahagiaanmu secara langsung.

Dari perempuan yang pernah mencintaimu terlalu dalam.

R