Pagi ini telah keluar dari mulut seseorang yg pernah saya panggil mama kata-kata yang tidak akan pernah bisa saya lupa. Dia mengatakan, "seandainya tidak berdosa itu sudah saya bunuh mko, mati mko saja sekalian tidak ada ji guna-gunamu hidup. Mati mko saja. Mati mko."
Bukan kali pertama saya mengalami ini, hanya saja setelah saya bertanya kenapa dia tidak bunuh saja saya sekalian, dia bilang bahwa dia tidak mau masuk penjara.
Entah apa yang membuat saya tetap kuat tidak mengambil pisau sesegera mungkin dan bunuh diri di depannya. Mungkin perasaan takut, atau mungkin karena saya tahu bahwa tertusuk pisau itu sakit.
Bertahun-tahun yang lalu saya juga pernah hampir bunuh diri, tapi di irisan pertama pisau itu di lengan saya, rasanya sangat sakit.
Sudah beberapa kali saya ingin sekali mati saja, karena toh dia memang ingin lebih baik saya mati. Tapi otak saya masih bekerja dengan baik, perasaan takut atau apa entahlah.
Pagi ini dimulai dengan dia menggedor kamar, memukul saya pakai sapu, menendang. Di kamar saya ada gunting, ku tanya kenapa tidak sekalian pakai gunting biar saya mati, dia hanya kembali memukul saya pakai sapu. Saya tanya dia kurang puas apalagi? Dia bilang saya adalah anak tidak berguna, tidak bisa membantunya di rumah, tidak ada satupun hal berguna dari saya tinggal di rumahnya. Dia bilang pergi saja dari rumahnya, tidak ada gunanya saya tinggal disana.
Saya adalah anak yang gagal di mata dia.
Dia capek membesarkan saya, saya malah menjadi anak yang tidak berguna
Ketika keluar dari mulutnya bahwa saya betul-betul lebih baik mati saja, saat itu juga sudah tidak lagi alasan saya tinggal.
Saat itu juga saya memutuskan, saya adalah anak yang telah mati untuk dia.
Toh dari dulu juga sepertinya begitu, hanya saja mungkin karena pemikiran akan malu atau apa kalau anaknya mati makanya dia tidak membunuh saya dari dulu. Jadi saya yang mengambil keputusan untuknya.
Saat saya mengatakan kenapa tidak ambil pisau sekalian dan bunuh saya, saya betul-betul sudah berharap dia akan mengambil pisau dan membunuh saya.
Saya sudah tdk bisa menangis pagi tadi.
Iya, saya anak yang tidak tahu berterima kasih kepada dia. Saya adalah anak pembangkang yang selalu membalas perkataan kasarnya kepada saya.
Maka mungkin dengan menganggap saya anak yang sudah mati untuk dia, adalah cara saya berterima kasih, dia tidak perlu lagi memikirkan anak yang tidak berguna dalam hidupnya ini.
Saya adalah anak yang durhaka. Saya tahu dan sangat sadar itu. Tapi setidaknya saya tidak perlu lagi menambah dosa dengan berhadapan dengannya.
Saya adalah anak yang sudah mati untuk dia.
No comments:
Post a Comment
Jejak para pembaca, boleh komen suka-suka :)