January 19, 2014

Untukmu yang memberiku harapan

Hari ini aku ingin sendiri, meringkuk sepi dalam selimutku yang dingin. Masih pagi, tapi hatiku sudah tersayat perih lagi. Menangis, padahal diluar langit cerahnya warna-warni.
Pernah kurasakan yang seperti ini, luka yang perih, sakit yang begini. Aku tak pernah berharap akan merasakannya lagi, padahal sudah cukup luka yang dulu belum tertutupi, tapi malah tertambah dan semakin bernanah berdarah lagi.
Apa memang tak bisa? Mengharapkanmu yang sudah memilikinya?
Aku pernah diingatkan, diberitahu, dinasehati oleh sahabat, oleh rekan sejawat, bahwa semuanya ini tak sehat, bahwa tak seharusnya aku bermain api dan berharap tak terbakar kemudian lukanya tak dirawat.
Namun, aku bisa apa?
Hatiku mendambanya sangat terlalu. Jiwaku mengharapkannya terlalu jauh. Ragaku menginginkannya sungguh.
Kemudian perhatiannya membuatku semakin ingin mendekatinya. Membiarkan jiwaku terhanyut dalam setiap kedekatannya, dalam setiap sentuhan jemarinya di tanganku, dalam setiap pelukannya yang membuat jantungku berdebar dan bertalu, dalam setiap kata-katanya yang menyejukkan kalbu. Padahal aku tahu, mengharapkannya menjadi milikku, adalah mimpi yang terlalu jauh.

Awalnya aku tak pernah berharap apa-apa, bahkan mengharapkanmu memiliki rasa untukku pun aku tak berani. Kita terlalu jauh, kau dengan kekasihmu, dan aku dengan kekasihku. Namun, sungguh rencana Tuhan tak adil untukku, kita didekatkan seolah kelak bisa bersatu, padahal dalam mimpipun itu terlalu lancang bagiku.
Kita mulai saling berbagi cerita, tentang apa saja yang mungkin bisa menjadi pemersatu kita, walau itu hanya keinginanku saja, kau tak pernah melihatnya dari sisi yang berbeda. Kau bercerita tentang milikmu, dan aku bercerita tentang hidupku, sambil sesekali kau mengeluh dan meminta nasihatku.
Hampir setiap malam, kau menjadi bagian dalam hari-hariku. Kosongnya kalbu yang kucipta sendiri, agar, entah darimana pemikiran bodoh ini muncul, kau bisa mengisinya, walau hanya sebatas, cerita.
Terlalu terburu-buru kah kalau aku menyebutnya  ini cinta?  Kalau iya, lalu apa namanya perasaan tak ingin melepaskan meskipun tahu kau tak mungkin berada dalam genggaman?
Lalu kedekatan kita, sepertinya bukan lagi sebatas teman. Ketika kau berkata kau juga sayang, ketika aku mengucap kata rindu. Terlebih ketika kau mengungkapkan kau sudah tak lagi bersama kekasihmu. Tahu kah kau? Waktu itu, aku sedih sekaligus bersemu.  

Namun, lagi-lagi aku termakan harapanku. Aku ingat kau sudah memperingatkanku, sudah mengancamku untuk tak berharap padamu. Tapi aku bisa apa? Egoku terlalu tinggi hingga menutup kenyataan sendiri.
Dan sekarang, disinilah aku, sendiri. Ketika lagi-lagi mendapati kenyataan, kau memang tak bisa kumiliki, bahkan dalam mimpi. Ketika aku mulai berontak menuntut sesuatu yang seharusnya tak pernah ku harap jadi milikku. Iya, aku sadar, seharusnya dari dulu, bahwa semua kedekatan yang tercipta, semua yang berusaha ku bangun agar terbentuk kata KITA, hanyalah ilusi belaka, hanya dari pihakku saja, sedangkan bagimu, entah bagaimana denganmu, mungkin, seperti kataku kemarin, aku adalah tempat pelarianmu.
Lalu dengan mudah kau berkata untuk mengakhiri saja, padahal memulai saja kita belum, mengakhiri semua yang terjadi diantara kita, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Sangat mudah sepertinya untukmu, saat kau berkata, lewat pesan singkatmu, bahwa tak akan ada lagi perhatianmu untukku. Sementara aku, menangis pilu berharap sedikit saja kau menginginkanku.

Seharusnya dulu ku dengarkan nasehat sahabatku, mengenai semua hal tentang harapan palsu, sayang waktu itu telingaku kelu, masih terbuai dengan ilusi-ilusi yang kucipta sendiri. Sekarang aku menangis sendiri, terbakar api yang kucipta dari tanganku sendiri, masih berharap tidak terbakar, padahal abunya sudah menyebar.

Ironi..


Untukmu yang selalu berkata tak bisa apa-apa.
Seharusnya aku tau, kau tau, itu saja.







No comments:

Post a Comment

Jejak para pembaca, boleh komen suka-suka :)