November 4, 2018
A woman whom I call mom want me to die
February 22, 2018
Makassar yang basah
Akhir-akhir ini Makassar basah di malam hari.
Siang hari sangat terik, lalu petang mulai mendung, dan ketika tiba malam, hujan turun.
Tidak kira-kira, harus memakai mantel hujan jika kamu tak ingin basah, harus menyalakan wiper mobil jika tak ingin pandanganmu terganggu tetes hujan.
Banyak juga yang terpaksa berteduh dipinggiran jalan, dibawah atap bangunan atau dibawah jembatan penyebrangan. Mereka lupa membawa mantel hujan, atau mungkin sengaja tak bawa, mengira sudah tak mungkin turun hujan, karena siang terlalu terik untuk meramalkan akan hujan ketika malam.
Disaat seperti ini, sangat pas mendambakan secangkir cappucino panas.
Atau sepiring nasi goreng ditambah telur mata sapi setengah matang. Lapar.
Disaat seperti ini, biasanya tiba-tiba ingin mengobrol panjang dengan seseorang. Saling bercerita tentang hari kamis yang panjang, mengutuk karena tiba-tiba turun hujan, dan berbagi sepiring pisang goreng yang masih panas.
Sayangnya hanya ada setumpuk kertas laporan saat ini. Minta diselesaikan sebelum pukul sepuluh malam. Dan secangkir kopi hitam yang telah dingin dan tersisa sedikit hampir habis.
Tidak ada sepiring nasi goreng, atau pun seseorang teman bercerita panjang.
Tapi hujan masih deras. Belum ada tanda akan segera reda. Mungkin malam ini akan sangat panjang. Tak apa. Aku suka Makassar yang basah.
Disuatu sudut kota makassar.
R
February 13, 2018
Surat panjang dan Postingan terakhir tentangmu
Di tengah meeting panjang di hari senin ini, entah kenapa saya tiba-tiba membuka blog ini yang sudah lama tidak ada postingan baru di dalamnya dan membaca postingan-postingan lama saya.
Di tengah membaca postingan-postingan saya, kemudian saya menyadari bahwa kebanyakan postingan terakhir saya bercerita tentang seseorang. Seseorang yang namanya sudah lama tidak muncul di inbox messengers saya. Seseorang yang pernah menjadi pusat dari hari-hari saya. Seseorang yang sebentar lagi akan memiliki kehidupan baru.
Lalu saya tersadar kalau cerita(?) saya tentangnya kebanyakan berisi tentang rasa sakit hati (sepertinya rasa sakit lebih mudah membuat saya untuk menulis).
Jadi, kenapa tidak sekalian saja, ini menjadi postingan terakhir saya tentangnya?
Ini adalah surat yang saya tulis di awal tahun lalu, yang saya tujukan untuknya. Awalnya saya bermaksud untuk mengirimkan langsung surat ini (sudah saya tulis rapi di buku catatan saya) entah lewat kantor pos (yes, post office do still exist, despite maybe people don't really use it to sent a letter thou)
Atau menitipkannya di seseorang, atau memberikan langsung kepadanya jika tidak sengaja bertemu (walau itu hal yang sangat tidak mungkin)
Tapi saya berfikir lagi, rasanya tidak mungkin saya memberikan surat ini kepadanya.
Entah apa yang saya harapkan dengan menulis nya disini.
Saya tidak berharap dia akan membaca surat ini. Hanya saja, saya berharap dengan menulisnya disini, perasaan saya bisa sedikit lega. Bahwa mungkin saya bisa lebih tenang, jika ada orang lain yang mengetahui tentang isi surat ini. Entah.
Makassar, 9 Januari 2018
Untuk, Tuan Malaikat
Selamat akhirnya kamu menikah dengan dia (setidaknya sebelum surat ini menjadi sangat panjang, biarkan saya mengucapkan selamat terlebih dahulu)
Ketika melihat dan membaca postinganmu bulan desember lalu, bahwa akhirnya kamu bertunangan dengan dia, saya cuma bisa terdiam dan mencoba menerima kenyataan tersebut. Saya mencoba bersikap tidak apa-apa, bahwa berita tersebut tidak berpengaruh terhadap saya. Namun pada kenyataannya hatiku terluka berdarah-darah.
Ternyata kedatanganmu di awal bulan desember itu, bukan semata-mata karena kerjaanmu disini, tapi untuk hal yang lebih penting dari itu.
Ketika saya membaca pesanmu yang berisi, ayo bertemu, tahukah kamu bahwa saya sangat menantikannya? Sayangnya pekerjaan saya tidak bisa saya tinggalkan, dan saya tidak sempat menemanimu siang itu.
Ketika saya berharap kita tetap bisa bertemu, tapi ternyata kamupun sudah sangat sibuk, yang tidak saya ketahui bahwa ternyata kamu sedang mempersiapkan acara lamaranmu.
Ketika minggu pagi kamu menyempatkan diri datang ke rumahku, walaupun dengan alasan kepentingan orang lain, saya bahagia. Setidaknya bisa bertemu lagi denganmu setelah sekian lama. Dan kembali berharap setidaknya sebelum kamu kembali ke tempat kerjamu, kita bisa bertemu dan mengobrol seperti dulu, tapi ternyata...
Di hari ketika saya mengetahui bahwa kamu telah melamar dia, saya menangis. Menangis sejadi-jadinya sampai mataku bengkak, dan orang kantor bertanya ada apa? Tentu saja saya tidak bisa menjawab bahwa orang yang saya sayang telah melamar pacarnya bukan?
Iya. Sayang. Kamu percaya?
Saya masih punya perasaan itu kepadamu, yang dengan sekuat tenaga saya tekan agar tak muncul kepermukaan, agar saya tidak terluka kerena perasaan itu. Agar kita bisa kembali hanya sekedar teman, bukan dua orang yang pernah saling menyimpan perasaan namun keadaan tidak memungkinkan.
Tahukah kamu bagaimana beratnya bersikap biasa-biasa saja di depanmu setelah semua yang sudah kita lalui? Saya sangat ingin kamu tahu bahwa perasaanku kepadamu belum berubah, bahwa masih ada kata sayang, bahwa saya hanya marah kepadamu. Tapi egoku tidak mengijinkannya. Saya berfikir, memangnya apa yang akan berubah jika kamu mengetahuinya? Kamu tidak akan pernah memilihku. Dia. Pilihan utamamu. Saya. Hanya sekedar pemeran pengganti.
Dengan harapan, bahwa ada kemungkinan sangat kecil, kamu bersamaku pada akhirnya, bahwa mungkin dia akan muak denganmu dan membuangmu, lalu kamu akan pergi ke arahku, atau bahwa mungkin akhirnya kamu sadar, kamu lebih membutuhkan perempuan sepertiku, daripada perempuan seperti dia, saya selalu menyebut namamu dalam tiap sujud terakhirku. Tapi tentu saja, setiap doa tidak mungkin bisa dikabulkan. Kita, tidak berjodoh. Saya mencoba menerima kenyataan itu.
Saya sempat berdoa, semoga kamu tidak jadi menikah dengannya, doa yang buruk, saya tahu. Itu karena saya marah. Sangat marah, entah kepadamu atau kepada Tuhan, atau kepada diriku sendiri, saya sampai berdoa hal-hal yang buruk. Maafkan saya. (tapi tenang saja, Tuhan sangat jarang mengabulkan doaku)
Namun setelah sehari semalam saya menangisimu, akhirnya saya mencoba menerima kenyataan bahwa kamu dan dia tidak bisa dipisahkan. Bahwa kamu memilih dia.
Saya mencoba mengikhlaskanmu, walaupun itu rasanya adalah hal yang terberat yang saya lakukan seumur hidupku. Saya memberikanmu ucapan selamat, walaupun saya akui tidak sepenuhnya tulus, tapi saya berdoa untuk kebahagiaanmu.
Saya benar-benar berharap kamu akan bahagia, hanya itu yang bisa saya harapkan sekarang.
Ketika kamu memberi tahuku tanggal pernikahanmu, saya langsung memutuskan untuk tidak datang (yang kamu tebak bahwa saya pasti sibuk)
Setangah hatiku masih sedikit sakit, dan saya benar-benar tidak tahu harus memasang wajah seperti apa ketika berhadapan denganmu dan dia di pelaminanmu nanti. Bagaimana kalau tiba-tiba saya menangis di pestamu? Itu pasti akan jadi bahan pembicaraan semua orang yang mengenalmu dan mengenalku dan mengetahui cerita kita. Jadi lebih baik jika saya tidak datang, dan mendoakanmu dari tempat yang jauh.
Semoga kamu bahagia.
Dan semoga ketika kita bertemu nanti, saya bisa tersenyum ikhlas dan kembali mendoakan kebahagiaanmu secara langsung.
Dari perempuan yang pernah mencintaimu terlalu dalam.
R
August 1, 2017
Rindu jatuh cinta
Aku rindu perasaan berdebar-debar saat menatap seseorang
Rindu perasaan bahagia saat mendapat pesan singkat dari seseorang
Rindu perasaan khawatir menanti kabar dari seseorang
Rindu perasaan berbunga saat mengobrol dengan seseorang hingga tengah malam
Rindu merasakan benar-benar jatuh cinta kepada seseorang.
Kapan aku terakhir kali merasakannya?
Perasaan sesak saat cemburu
September 29, 2015
Aku Rumahmu
Tempatmu pulang sejauh apa pun kau pergi
Tempatmu kembali sebanyak apa pun kau singgah
Tempat nyamanmu
Tempat terindahmu
Tempat membaringkan kepalamu, saat dunia terlalu keras kepadamu
Tempat mendapatkan kembali semangatmu, saat dunia melelahkan tubuhmu
Aku rumahmu..
Maka pulanglah setelah kau selesai bermain
Aku rumahmu..
Maka ingatlah aku jika kau pergi terlalu jauh
Your stupid little secret admirer..
April 11, 2015
My favorite Youtube Channel
Kalau online di laptop palingan buka Facebook (lagi), blogwalking, googling untuk TA, dan baca komik online. Kalau orang lain pada bisa dapat uang lewat internet saya mah nggak -___-)a
Karena merasa tidak membutuhkan cukup banyak kuota untuk internet, maka biasanya saya cuman beli kuota 4GB untuk sebulan, malah biasa nggak habis.
Lalu semuanya berubah saat saya mengenal "The Return Of Superman"
Kurang lebih dua bulan yang lalu saya mulai menonton salah satu Reality Show yang sedang sangat populer di Negeri ginseng ini. Saya mengetahui tentang The Return of Superman ini dari Sulung, kakak perempuan saya, yang sudah cukup lama mengetahuinya sebelum saya. Awalnya saya cuman sering mendengar cerita kakak saya tentang kelucuan anak-anak yang ada di The Return of Superman ini, dan saya pun penasaran dan memulai menontonnya sendiri. Satu episode berlanjut ke episode kedua, lalu ketiga dan akhirnya sayapun ketagihan sampai sekarang, ahahahaha....
Untuk yang belum tahu, The Return of Superman ini merupakan Reality Show tentang beberapa orang ayah yang menjalani 48jam bersama anak mereka tanpa kehadiran dan bantuan Ibu (istri mereka). Shootingnya dilakukan setiap dua minggu sekali (kalau nggak salah #plaak) dan di rumah atau tempat masing-masing keluarga, walaupun terkadang ada beberapa episode dimana mereka saling bertemu satu sama lain dan menjalani satu hari bersama.
Setiap keluarga memiliki cerita dan kelucuan yang tersendiri, sehingga sangat menyenangkan menonton setiap cerita mereka. Anak-anak yang lucu, sang ayah yang tampan dan memiliki kharisma masing-masing, serta banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam setiap kisahnya adalah hal-hal yang membuat saya tidak bisa berhenti menonton Reality Show ini XD
Beruntung karena KBS (tempat reality show ini tayang di Korea Selatan) mengunggah video acara dan drama mereka ke YouTube sehingga sangat mudah bagi saya untuk terus menontonnya setiap hari, ahahaha.. Iya hampir setiap hari, berhubung saya mulai menontonnya disaat sudah ada 60an episode, jadi saya menontonnya dari episode pertama hingga sekarang saya masih sementara menonton episode ke 62 (saat ini sudah ada 72 episode yang on air), satu episode setiap harinya, kalau sedang tidak sangat sibuk dan jaringan bagus bisa sampai 3 episode perhari, hehe..
Dan akibatnya, yang awalnya kuota saya cuman butuh sekitar 3GB perbulan, sekarang saya menghabiskan 10GB, kurang dari sebulan -____-)a
Menguras dompet memang, tapi apa daya, saya terhipnotis dengan kelucuan dan keseruan anak-anak tersebut O(>///<)O
Yang mana yang merupakan Favorite saya??
Secara keseluruhan sih saya suka semuanyaaaaa, tapi untuk Favorite saya...... Pada episode-episode awal, saya sangat suka dengan Choo Sarang dan ayahnya Choo SungHoon.
April 10, 2015
Forgive not forget
March 7, 2015
Postingan seketika
Tuan Malaikat..
kau suka?
Aku memang harus pergi
March 4, 2015
Pergi dengan terpaksa
Ketika aku tahu seharusnya aku menutup mata
Semuanya sudah terjadi begitu saja
Rasa, sesal dan asa sudah terpaut tak bisa dibendung dengan sengaja
Dan kini aku harus pergi dengan terpaksa
Meninggalkan cerita dan satu setengah tahun kebersamaan kita
Walaupun tak mudah
Walaupun tak pernah tercipta kata "kita"
Aku bahagia kita pernah bersama
Walaupun aku hanya pelarianmu saja
Pesonamu terlalu memikat
Dan dengan sengaja kau juga ikut mendekat
Lalu salahkah aku yang begitu mudah terjerat?
Oleh sinarmu yang membutakan hatiku sesaat
Lalu kita dekat dalam kisah yang sesat
Padahal aku tahu akhirnya hanya aku yang akan merasakan pekat
Dan malam ini
Disaat seharusnya aku tak sendiri
Aku sadar kebodohan ini harus segera diakhiri
Dan satu-satunya cara yang ada hanyalah aku harus pergi
Bahkan mungkin berlari
Dari rasa yang sudah kau beri
Dari hasrat ingin memiliki
Dari nyaman yang tercipta dalam perih
Dari rindu padamu yang telah menyakiti
Makassar,
040315 - 00:51
March 1, 2015
Bertemu teman lama, segelas teh hangat dan mencoba mencari kata ikhlas
Yang awalnya mau nonton Kingsman jam 12.00, terpaksa diundur menjadi jam 14.25, karena kita telat datang dan filmnya sudah diputar pas kita tiba di bioskop, walaupun sebenarnya baru 10 menit, tapi saya tipe orang yang tidak suka nonton film telat, walaupun hanya beberapa menit, pokoknya saya harus nonton dari awal, hehehe..
Sambil nunggu filmnya diputar, kami pun makan di salah satu restoran cepat saji di dalam mall, berhubung Farel, anaknya teman saya, sudah mengeluh lapar. Disana, sambil menunggu pesanan, kami pun banyak bercerita tentang jaman SD dulu, nostalgia. Cerita tentang cinta-cintaan jaman dulu, ahahhaa, jaman SD memang tidak bisa lepas dari kisah cinta monyet yah?
Teman saya ini salah satu "bunga desa" nya jaman SD dulu, banyak yang naksir dia dan ada saja hal-hal konyol yang dulu kita lakukan semasa SD biar bisa dekat dengan gebetan, dari mulai ngasih kado lah, sok-sok-an beli coklat waktu valentine lah, tapi walaupun begitu, jaman saya dulu cinta-cintaannya kita cuman sebatas itu, naksir, ngasih kado, saling titip salam, sudah, kalaupun ada beberapa teman saya yang jadian dengan gebetannya (diantaranya teman saya ini) paling mereka pacarannya cuman sebatas status pacaran, itupun status pacarannya tidak diumbar di depan publik, paling ketahuan setelah kita menginterogasi orang-orang yang kita curigai sedang pacaran (ahahaha..) tidak ada yg namanya gandengan tangan (di depan umum mungkin) apalagi sampai ciuman seperti anak-anak SD jaman sekarang *calm face*
Apa saya pernah pacaran semasa masih di SD?
Ohohoho.. tentu saja tidak! *nyengir kuda*
Waktu saya SD, saya adalah cewek 'tidak feminin' yang doyan main engrang bareng teman-teman cowok saya. Tapi kalau naksir salah satu teman cowok saya sih pernah, ah, cinta monyet istilahnya, tapi hanya begitu saja, saya belum mengenal kata 'jadian' ketika masih memakai rok merah marun dulu, hanya mengenal kata "Ayo, main lojo'-lojo'!!!!"
Selesai menonton, kami berjalan-jalan sebentar di dalam mall, sambil melihat-lihat pameran wedding dress dan wedding planner yang sedang diselenggarakan disana (dan saya sangat terkagum-kagum melihat baju-baju nikahan warna putih nan seksi, juga foto-foto pre-wedding dengan konsep yang keren-keren >//<)
Diperjalanan pulang, kami kembali bercerita. Kali ini tentang kehidupan kami yang sekarang. Wanita tangguh yang duduk di kursi mobil disamping saya itu, bahkan tidak sempat menyelesaikan bangku SMA nya, permintaan orang tua dan tradisi keluarganya menjadikannya seorang ibu muda. Ia banyak bercerita tentang kehidupannya setelah dia menikah dan setelah suaminya berpulang ke Rahmatullah tiga tahun yang lalu. Tentang bagaimana dia berusaha menerima kenyataan dan mencari kata ikhlas didalam kehidupannya saat itu. Bayangkan saja, menikah muda, kemudian ditinggal sang suami setelah memiliki seorang anak laki-laki yang saat itu kurang lebih masih berumur lima tahun. Ia mengatakan bahkan saat suaminya meninggal, Ia tak sanggup menangis pada awalnya. Jiwanya terlalu terguncang dan kaget menerima kenyataan suaminya harus meninggalkannya secepat itu.
Lalu tidak lama setelah itu, keluarganya kembali mendapat musibah, toko milik suaminya ikut terbakar dalam kebakaran massal di Pasar sentral sekitar dua tahun yang lalu.
Ia banyak mendapatkan pelajaran hidup saat itu, tentang bagaimana Ia harus ikhlas, dan sabar. Tentang bagaimana Tuhan sanggup menguji Hambanya sedemikian rupa, agar mempelajari seseuatu di dalam ujian tersebut.
Saya pun mendapatkan banyak pelajaran darinya, tentang keteguhan hati, tentang keikhlasan, tentang kesabaran.
Dan disinilah saya, beberapa jam kemudian, ditemani segelas teh hangat dan mencoba mencari kata ikhlas atas semua kejadian beberapa bulan terakhir.
Tidak, saya sedang tidak diuji dengan ujian sebesar yang dialami teman saya itu, melainkan hanya ujian setingkat anak SD, yaitu Patah hati.
Namun, tidak semudah itu untuk mengikhlaskan semuanya. Ingin rasanya saya bisa meyakinkan diri saya sendiri, bahwa semua baik-baik saja, semua akan baik-baik saja, ikhlaskan saja, biarkan saja. Tidak mudah mencari kata ikhlas di dalam hati yang masih dirundung sedih, di dalam jiwa yang masih terluka sayat yang perih. Hati saya masih berteriak "HEI! KENAPA HANYA SAYA YANG TIDAK BAHAGIA KARENA INI, PADAHAL YANG MENJALANINYA BUKAN HANYA SAYA?"
"Kenapa kau bisa dengan bahagia tetap menjalani kehidupanmu dengannya, dan saya setiap malam masih menangisi semua hal yang kita lalui dan semua hal yang seolah-olah bukan apa-apa untukmu?"
"KENAPA KAU TIDAK IKUT TERLUKA?"
Butuh waktu, kata teman saya. Luka bakar saja tidak langsung hilang dalam seminggu sebagus apapun obat yang digunakan. Butuh proses, kata teman saya.
Maka, saya sedang mencoba mencari kata ikhlas. Mencoba bisa kembali mendoakanmu bisa bahagia dengannya (bukannya mengutukimu berpisah dan kau akan merasakan bagaimana rasanya sakit hati)
Ya, saya sedang mencoba, pelan-pelan, tidak bisa instan.
Semoga kelak, saat bertemu denganmu nanti, hei Tuan, saya bisa tersenyum ikhlas dan menanyakan kabarmu dan kabar pasanganmu.
Wish me can have a big heart for that :)
Salam,
Yang masih memiliki luka bakar, Rara ~
February 27, 2015
Yang katanya sedang patah hati, dan potongan rambut yang baru
Seharusnya Aku TAHU DIRI
Aku sudah tahu, mendekatimu adalah hal yang salah, mencintaimu adalah tindakan yang bodoh, menginginkanmu adalah hasrat yang tak pantas. Namun, kedekatan kita, adalah sesuatu yang tidak bisa aku hindari. Bagaimana mungkin aku mengingkari perasaan yang bisa membuatku bahagia membuncah? Walaupun aku tahu, aku tak seharusnya berharap lebih.
Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, tak seharusnya aku berbuat seperti itu, karena kamu tak pernah memandang sisi yang sama denganku. Kedekatan kita, bukanlah kesamaan harapan dalam satu keinginan bagimu. Kamu berada disampingku, tapi hasrat yang kuciptakan tak pernah sampai ke hatimu. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seakan menguap, menghilang tak berbekas di jiwamu. Kamu mungkin menganggap perasanku padamu hanyalah sesaat, hanyalah permainan dan suatu saat akan menguap.
Kamu sudah mengetahui bagaimana perasaanku terhadapmu, dan walaupun kamu tahu bahwa itu salah, kamu menyambutku seolah-olah tak apa jika aku berharap kepadamu, kamu membiarkanku memeluk mimpiku tentangku, kamu mengizinkanku merasakan manisnya kisah kita padahal itu adalah bayangan semu. Kebahagiaanmu adalah hal yang paling kuinginkan setiap hari. Dulu, aku berharap, aku bisa menjadi alasanmu tersenyum setiap hari, tapi ternyata harapanku terlalu tinggi.
Tuan, semuanya telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kamu jujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada disisimu. Sudah ada seseorang untukmu, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku. Tentu saja, jika dia tak sempurna, kamu tak akan memilih dia menjadi satu-satunya untukmu.
Tuan, setelah mengetahui semua itu, apakah kamu pernah sedikit saja menilik tentang perasaanku? Ini terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tanpa status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa menyapamu dalam pesan singkat, harus terpaksa terbiasa tak lagi menanyakan kabar tentangmu, karena aku tersadar seharusnya aku tahu diri. Aku berusaha memahami itu. Setiap saat. Setiap hari. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir, dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh.
Tuan, jika aku boleh meminta langsung kepada TUHAN, aku tak ingin kedekatan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu menyebutkan namaku. Aku tak ingin mengingat aromamu ketika kebersamaan kita terlalu dekat. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu. Sungguh, aku tak ingin semua hal itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskanku sekeji ini.
Tuan, jika ingin mengetahui bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam milyaran bahasa tak akan mampu mendeskripsikannya. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kamu paham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku tak pernah mempunyai tempat dalam hatimu.
Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya, aku selalu berusaha menganggap semuanya baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi penyebab aku menangis setiap malam. Namun, sampai kapan aku harus terus mencoba?
Sementara ini saja, aku tak kuat lagi membayangkanmu bahagia dengannya. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu dan kemudian mencari pengganti.
Tuan, seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, walaupun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kamu tahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah dan memilihku sebagai tujuan. Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakkan segala kecemasanmu, kotak untuk menceritakan mimpi-mimpimu, lalu kamu pergi tanpa janji untuk pulang.
Semoga kamu tahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku untuk membencimu, setiap hari, setiap kulihat kamu bahagia bersama kekasihmu. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.
Bisakah kamu bayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kamu bayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari harus melihatmu dengannya?
Bisakah kamu bayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?
Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu bukan seseorang yang perasa.
Maka aku tahu, tuan, seharusnya aku tahu diri.
~RR
February 23, 2015
Postingan seketika
Mungkin nanti setelah saya sudah mulai tenang, ketika saya sudah mulai ikhlas, ketika hati saya mulai lega, saya akan menceritakannya satu-satu.
Dan saat ini, biarkan saya menangis dalam diam, mengasihi diri sendiri, dan menikmati kesendirian saya.
January 31, 2014
Sebulan bersama Choco
Sebulan bersama choco, bukanlah hal yang mudah, karena seperti yang saya bilang tadi, waktu pertama kali datang, choco sama sekali nggak mau makan ataupun minum. Awalnya saya mencoba memberi dia susu formula, berbekal ilmu yang saya lupa-lupa ingat yang saya dapatkan dari membaca komik detective conan, yaitu cara memberi minum anak kucing yang masih sangat kecil namun sudah tidak bersama induknya adalah dengan memberinya susu formula yang diencerkan 3x dari yang biasanya manusia minum, kemudian dihangatkan sampai sama dengan suhu tubuh manusia baru dituang diwadah, namun si choco muda sama sekali tidak meminumnya :(
Karena selama dua hari dia tidak makan atau minum apapun (saya mencoba memberikannya makanan kucing Meow yg sudah saya hancur-hancurkan, tapi nggak dimakan juga) saya pun takut si Choco lama-lama bakalan mati kelaparan. Tapi akhirnya malam hari kedua si choco pun mau meminum air putih hangat yang saya kasih :') *sampai nangis terharu saya waktu itu* dan besoknya dia juga mulai memakan makanan nya \(^O^)/, bahagia sekali saya waktu itu, saya pun tak cemas lagi si Choco bakalan mati kelaparan.
Mengurus Choco selama sebulan juga susah-susah gampang. Rasanya kayak punya anak yang baru lahir (walaupun saya belum pernah punya anak, tapi tau lah rasanya berdasarkan cerita yang saya dengar dari teman dan keluarga). Sampai minggu pertama si Choco hobby "menangis", iya.. jadi si Choco hobby banget mengeong-ngeong dengan suara cempreng khas anak kucing baru lahir, saya kadang sampai emosi karena nggak tau musti ngapain dan musti bagaimana supaya si choco diam :3
Biasanya kalau habis saya pukpukin atau belai-belai baru deh mau diam, tapi itu kadang-kadang baru berhasil, pokoknya persis kayak anak bayi manusia yang baru lahir deh, yang suka banget nangis tengah malam, sampai bikin maknya pengen melambaikan tangan ke kamera (lu kate masih dunia lain, ra'?)
And then..
January 24, 2014
Free Topi dan Burger dari mas-mas Wendy's yang baik hati
Saya mau bercerita sedikit sebelum tidur, tentang pengalaman 'konyol' dan bahagia saya sore tadi bersama dua cowok ganteng saya, bukan, saya nggak pacaran sama dua cowok sekaligus kok, tapi mereka adalah sahabat saya, cowok-cowok ganteng yang sudah pada punya pacar, ahahhaa...
Jadi ceritanya sehabis mutar-mutar di salah satu pusat perbelanjaan di kota Makassar, yaitu MTC, (yang rencana awalnya saya pengen beli Handphone baru, malah berakhir nggak beli apa-apa karena galau mau beli Handphone apa :3 Ada saran? *nyari handphone touch screen yang kameranya bagus dan tahan banting*) kami bertiga *saya, bang deny, dan yogha* memutuskan untuk singgah makan si salah satu restoran cepat saji yang baru buka di sana, yaitu Wendy's XD
Berhubung ini kali pertama kami makan disini, jadi kami bertiga belum terlalu familiar dengan menu-menunya, beda kalau makan di mcD, tanpa liat menupun sudah tau mau pesan apa beserta harganya berapa, hehehe.. sehingga kami sempat "berulah" dan bikin heboh pas memesan makanan.
Mba-mba wendy's : "Siang mba', makan sini?" (sambil naruh nampan dan kertas di atas nampan, yang gambarnya ada labirin-labirin gitu, bisa dimainin, eh, si Yogha malah main ambil aja kertas itu, terpaksa diganti lagi sama mba'nya dengan kertas yang baru, ahahaha..)
Sy: "Iya mba', makan disini, tapi nanti kami makannya di meja sana mba', kalau makan dimeja counter ini, jadi menghalangi dong nanti" (saya mulai melucu ke mba-mba nya)
MMW: *ketawa kecut* (mungkin menganggao leluconku nd lucu :3*
Sy: "Iya, jadi kami pesan Cheesburger satu, double cheeseburger deluxe satu, dan crispy cheese burger satu"
MMW: *sibuk ngetik sana-sini dan masih pusing dengan pesanan-pesanan kami, karena saya menyebutkan pesanan sambil ketawa-ketawa dan terbata-bata bilangnya*
Si Yogha dan Bang Deny malah asyik mainin kertas labirin itu, sibuk gambar sana-sini nyari jalan menuju finishnya, dan saya juga ikut memperhatikan mereka.
Dan eh, ternyata mba'nya salah dengar pesanan saya, dan saya pun menyebutkan ulang masing-masing pesanan tadi, sampai perlu manggil pegawai lainnya karena mba'nya tadi bingung dengan pesanan saya, dan mesin kasirnya. Setelah berhasil mendapatkan jalan keluar di permainan labirin tadi, saya pun memperlihatkan kertas itu ke Mas-mas Wendy's (Mba'-mbanya menyerah menghadapi saya karena masih beberapa kali bingung) yang sekarang melayani kami.
Sy: "Mas, berhasil didapat ini jalan keluarnya, ada hadiahnya nd?" (saya bertanya dengan cueknya sama masnya yang masih bingung dengan mesin kasirnya, aahahahha..)
Mas-mas Wendy's: "Aii.. Nd ada mba.."
Sy: "Aiii... masa' nda ada mas, berhasil mi lagi di dapat, ahahaha.." (niatnya becanda, cuman pengen heboh aja)
Mas-mas Wendy's: "Oohh.. tunggu dulu mba.." (beranjak dari tempatnya dan menuju counter sebelah, mencari sesuatu) "Ini, mba hadiahnya.." (sambil senyum, mas-masnya itu ngasih saya topi merah yang ada tulisan Wendy's nya sebagai hadiah)
Sy: "Serius ki ini, mas? yeyyyyy... Ambil mi ini yog, siapa tau kalau belanja ko lain kali disini, baru pakai ini topi, dikasih ko diskon, ahahahaha..."
Mas-mas Wenndy's: (senyum sambil kembali menanyakan pesanan kami)
Untungnya setelah beberapa kali salah pesan dan sempat bercanda-bercandaan di depan counter itu, kami pun berhasil memesan dan mendapatkan makanan kami, tapi sayangnya makanan saya harus ditunggu, nanti diantarkan kata mas-masnya.
*sudah mirip pegawai disini*
Sebenarnya saya nggak terlalu yakin masnya ngomong compliment atau apa, pokoknya yang saya artikan itu sebagai ucapan terimakasih atau senang dengan sikap kami, hehehe... *padahal tadi jadi biang rusuh*
Sy: "Eh??" (pasang wajah sok kaget namun bahagia) "makasih banyak mas.." (pasang senyum paling manis juga"
Mas-mas Wendy's: "Iya, mba.."
>.<
Yang wajahnya semuda Maudy Ayunda,
January 22, 2014
Sahabat yang Perhatian dan Choco Bath Time
Kemarin seharian (nggak seharian juga sih..) saya meringkuk di dalam kamar karena demam dan terkena alergi obat, perpaduan yang sangat bagus memang -_-a. Sama seperti kota-kota lain di Indonesia, Makassar juga lagi sibuk-sibuknya dengan hujan, dan saya yang emang akhir-akhir ini sangat banyak kegiatan outdoor, jadi salah satu korbannya karena kemana-mana malas bawa payung atau pakai jaket tebal, dan karena emang daya tahan tubuh saya sedang manja, jadi lah saya demam dan pas minum obat, eh, malah alergi, mulut dan hampir semua bagian muka saya bengkak-bengkak, badan juga memerah, ah.. benar-benar cobaan yang lumayan berat di dua hari kemarin.
Belum lagi keadaan hati masih porak poranda (ceilah..) lengkap lah sudah.
Tapi, ketika lagi merasa sendiri saat sakit itu, ternyata masih ada orang-orang yang perhatian sama saya *bahagia*. Ada yang telponin sampai berjam-jam cuman buat saya jadikan tempat curhat dan kasih nasehat ini itu biar saya kembali waras, ada yang datang ke rumah siang-siang buat bawain nasi goreng dan obat (tapi ujung-ujungnya obatnya malah bikin alergi :3 ), ada yang datang ke rumah malam-malam buat bawain susu ultra sekotak besar dan sup hangat, dan ada yang smsin doain semoga lekas sembuh (lengkap dengan emoticon cium peluknya) dan nasehatin biar nggak begadang, hehehe.. Pokoknya bahagia banget deh dapat perhatian dari mereka semua. Thanks to my bebeb-bebeb Acer, Yogha, kak Icha, Bang Deny, Gias (my tweenies) dan Dedy. KECUP HANGAT SATU-SATU. XOXO.
Dan karena seharian di kamar, guling sana guling sini, kerja hal-hal remeh, sore hari saya pun merasa, kok ada yang kurang yah? Biasanya ada makhluk bulet kecil berkaki empat berbulu warna-warni yang sibuk kesana kemari, dan mengeong minta makan, kok hari ini kamar saya sunyi senyap yah??
Ah, dan saya pun baru ingat kalau si Choco lagi saya "kurung" di teras atas karena takut demam saya tambah parah kalau dekat-dekat dia :'(
Akhirnya sore kemarin saya pun 'menjenguk' si makhluk bulet kecil berkaki empat berbulu warna-warni itu, dan choco seakan ngomong "KANGEEN"
Tapi, karena ditaruh diluar (biasanya si choco di dalam rumah atau nggak di kamar saya XD) si choco jadi buluk dan berantakan, saya pun memutuskan sepertinya ini waktunya memandikan si makhluk bulet kecil berkaki empat berbulu warna-warni ini (yaelah panjang amat sebutan untuk Choco), dan sekalian menggunting kukunya yang sudah panjang, karena berdasarkan pengalaman yang kemarin-kemarin pas mandiin si Choco, tangan saya yang mulus sukses mendapatkan bekas cakarnya yang imut-imut :3
January 19, 2014
Pertanyaan singkat
untukmu, yang baru saja memberi penjelasan padaku.
Untukmu yang memberiku harapan
Pernah kurasakan yang seperti ini, luka yang perih, sakit yang begini. Aku tak pernah berharap akan merasakannya lagi, padahal sudah cukup luka yang dulu belum tertutupi, tapi malah tertambah dan semakin bernanah berdarah lagi.
Apa memang tak bisa? Mengharapkanmu yang sudah memilikinya?
Aku pernah diingatkan, diberitahu, dinasehati oleh sahabat, oleh rekan sejawat, bahwa semuanya ini tak sehat, bahwa tak seharusnya aku bermain api dan berharap tak terbakar kemudian lukanya tak dirawat.
Namun, aku bisa apa?
Hatiku mendambanya sangat terlalu. Jiwaku mengharapkannya terlalu jauh. Ragaku menginginkannya sungguh.
Kemudian perhatiannya membuatku semakin ingin mendekatinya. Membiarkan jiwaku terhanyut dalam setiap kedekatannya, dalam setiap sentuhan jemarinya di tanganku, dalam setiap pelukannya yang membuat jantungku berdebar dan bertalu, dalam setiap kata-katanya yang menyejukkan kalbu. Padahal aku tahu, mengharapkannya menjadi milikku, adalah mimpi yang terlalu jauh.
Awalnya aku tak pernah berharap apa-apa, bahkan mengharapkanmu memiliki rasa untukku pun aku tak berani. Kita terlalu jauh, kau dengan kekasihmu, dan aku dengan kekasihku. Namun, sungguh rencana Tuhan tak adil untukku, kita didekatkan seolah kelak bisa bersatu, padahal dalam mimpipun itu terlalu lancang bagiku.
Kita mulai saling berbagi cerita, tentang apa saja yang mungkin bisa menjadi pemersatu kita, walau itu hanya keinginanku saja, kau tak pernah melihatnya dari sisi yang berbeda. Kau bercerita tentang milikmu, dan aku bercerita tentang hidupku, sambil sesekali kau mengeluh dan meminta nasihatku.
Hampir setiap malam, kau menjadi bagian dalam hari-hariku. Kosongnya kalbu yang kucipta sendiri, agar, entah darimana pemikiran bodoh ini muncul, kau bisa mengisinya, walau hanya sebatas, cerita.
Terlalu terburu-buru kah kalau aku menyebutnya ini cinta? Kalau iya, lalu apa namanya perasaan tak ingin melepaskan meskipun tahu kau tak mungkin berada dalam genggaman?
Lalu kedekatan kita, sepertinya bukan lagi sebatas teman. Ketika kau berkata kau juga sayang, ketika aku mengucap kata rindu. Terlebih ketika kau mengungkapkan kau sudah tak lagi bersama kekasihmu. Tahu kah kau? Waktu itu, aku sedih sekaligus bersemu.
Namun, lagi-lagi aku termakan harapanku. Aku ingat kau sudah memperingatkanku, sudah mengancamku untuk tak berharap padamu. Tapi aku bisa apa? Egoku terlalu tinggi hingga menutup kenyataan sendiri.
Dan sekarang, disinilah aku, sendiri. Ketika lagi-lagi mendapati kenyataan, kau memang tak bisa kumiliki, bahkan dalam mimpi. Ketika aku mulai berontak menuntut sesuatu yang seharusnya tak pernah ku harap jadi milikku. Iya, aku sadar, seharusnya dari dulu, bahwa semua kedekatan yang tercipta, semua yang berusaha ku bangun agar terbentuk kata KITA, hanyalah ilusi belaka, hanya dari pihakku saja, sedangkan bagimu, entah bagaimana denganmu, mungkin, seperti kataku kemarin, aku adalah tempat pelarianmu.
Lalu dengan mudah kau berkata untuk mengakhiri saja, padahal memulai saja kita belum, mengakhiri semua yang terjadi diantara kita, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Sangat mudah sepertinya untukmu, saat kau berkata, lewat pesan singkatmu, bahwa tak akan ada lagi perhatianmu untukku. Sementara aku, menangis pilu berharap sedikit saja kau menginginkanku.
Seharusnya dulu ku dengarkan nasehat sahabatku, mengenai semua hal tentang harapan palsu, sayang waktu itu telingaku kelu, masih terbuai dengan ilusi-ilusi yang kucipta sendiri. Sekarang aku menangis sendiri, terbakar api yang kucipta dari tanganku sendiri, masih berharap tidak terbakar, padahal abunya sudah menyebar.
Ironi..
Untukmu yang selalu berkata tak bisa apa-apa.
Seharusnya aku tau, kau tau, itu saja.
Malam ini aku Batu
Tak mau jadi yang pertama kali mengucap rindu, walau dalam hati tersayat pilu, menanti perhatianmu.
Tak mau jadi yang pertama kali bertanya tentang harimu, walau dalam hati bertanya-tanya, apa di harimu aku pernah terlintas dalam bias hasratmu.
Sesekali aku ingin egois, ingin merasa penting, ingin berharap dirindui, bermimpi untuk diingini.
Walau padahal aku sudah tahu pasti, tak ada guna aku berharap lagi, hatimu tak menyimpan rasa seperti hasrat gilaku.








